Orkestrasi Komunikasi Publik Cegah Hoaks dan Disinformasi

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Usman Kansong. (Youtube Kemkominfo TV) Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Usman Kansong. (Youtube Kemkominfo TV)

Jakarta, DJIKP - Orkestrasi dan narasi tunggal bisa dioptimasikan untuk mencegah penyebaran hoaks dan disinformasi di tengah masyarakat. Namun, masyarakat juga perlu dibekali dengan keterampilan agar bisa selektif dalam menerima informasi dari berbagai kanal digital. 

“Sebenarnya ada trik yang simpel bagi Sobatkom (Sobat Kominfo) untuk mengetahui sebuah informasi itu hoaks atau bukan. Kalau satu informasi itu istilahnya adalah too good to be true atau too bad to be true,” kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Usman Kansong, dalam Talkshow TokTok Kominfo yang disiarkan langsung dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 9, Jakarta, melalui kanal media sosial Kemkominfo, pada Jumat (20/8/2021). 

Dirjen IKP Kemenkominfo yang baru dilantik 10 Agustus 2021 ini menjelaskan pengertian too good to be true sebagai terlalu baik untuk benar, sedangkan too bad to be true adalah terlalu buruk untuk benar. Menurutnya, terhadap setiap informasi yang diterima masyarakat perlu waspada. 

“Nah itu mesti kita waspada. Banyak contohnya, misalnya ketika ada orang memberikan bantuan jumlahnya sangat besar, kita patut curiga, itu too good to be true. Walaupun belum tentu kecurigaan itu terbukti, siapa tahu benar juga, tapi paling tidak alarm kita sudah berdiri,” jelasnya dalam talkshow yang dipandu Abi Satria. 

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Usman Kansong, dalam Talkshow TokTok Kominfo di kanal Youtube Kemkominfo TV (Youtube Kemkominfo TV)

Selain itu, Dirjen IKP menyebutkan cara lain untuk mengetahui informasi mengandung unsur hoaks ataupun disinformasi. Menurutnya, ciri yang menonjol dapat dilihat melalui sebuah pesan singkat yang disebarkan. 

“Kalau ada kata ‘sebarkan’, itu harus kita waspadai. Apalagi ditulis dengan huruf kapital semua. Nah kita harus curiga itu. Jangan langsung sharing saja sebelum kita saring,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat juga dapat mengambil langkah lain seperti menelusuri kebenaran informasi melalui media resmi terpercaya atau mesin pencari di internet.

“Kalau ternyata nggak ada yang memberitakan, berarti tidak benar. Tetap kita coba melakukan cek, ricek, dan kroscek itu kepada media mainstream. Karena menurut penelitian, tingkat kepercayaan terhadap media mainstream itu tinggi dibandingkan dengan media sosial,” ujarnya. 

(lnm/ip)